China Keluarkan Larangan Ekspor, Jepang Protes Keras – detikFinance

Viral_X
By
Viral_X
11 Min Read

Geger! China Larang Ekspor Bahan Krusial, Jepang Meradang Keras!

Pemerintah Tiongkok baru-baru ini memberlakukan pembatasan ekspor terhadap beberapa mineral penting, memicu kekhawatiran serius di pasar global dan reaksi keras dari negara-negara importir. Kebijakan ini, yang mulai berlaku efektif pada 1 Agustus 2023, telah menuai protes keras dari Jepang, salah satu importir utama material tersebut, yang khawatir akan gangguan signifikan terhadap industri berteknologi tinggi mereka.

Latar Belakang Ketegangan Perdagangan Global

Langkah Tiongkok untuk membatasi ekspor gallium dan germanium, dua logam langka yang krusial untuk produksi semikonduktor canggih dan teknologi lainnya, bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perang dagang teknologi antara Tiongkok dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat.

Dominasi Tiongkok dalam Produksi Material Krusial

Tiongkok merupakan produsen dominan gallium dan germanium di dunia. Menurut data industri, Tiongkok bertanggung jawab atas lebih dari 80% pasokan gallium global dan sekitar 60% pasokan germanium. Kedua mineral ini memiliki aplikasi vital dalam berbagai sektor industri canggih:

  • Gallium: Esensial untuk semikonduktor majemuk seperti gallium arsenide (GaAs) dan gallium nitride (GaN), yang merupakan komponen kunci untuk perangkat 5G, radar militer, kendaraan listrik (EV), serta dioda pemancar cahaya (LED) berkinerja tinggi.
  • Germanium: Penting untuk produksi serat optik kecepatan tinggi, lensa inframerah yang digunakan dalam pencitraan termal, sel surya efisiensi tinggi, dan beberapa komponen elektronik canggih lainnya.

Ketergantungan global yang besar pada Tiongkok untuk pasokan material ini menjadikan setiap pembatasan ekspor memiliki potensi dampak yang sangat besar pada rantai pasok global.

Konflik Teknologi AS-Tiongkok Memicu Balasan

Pembatasan ekspor ini secara luas dipandang sebagai respons balasan terhadap upaya Amerika Serikat dan sekutunya untuk membatasi akses Tiongkok terhadap teknologi semikonduktor canggih. Sejak Oktober 2022, Washington telah memberlakukan serangkaian kontrol ekspor yang bertujuan untuk menghambat kemampuan Tiongkok dalam memproduksi chip canggih, dengan alasan keamanan nasional.

Langkah-langkah AS tersebut mencakup pembatasan ekspor peralatan pembuatan chip, pelarangan warga negara AS untuk bekerja di fasilitas chip Tiongkok, dan tekanan terhadap sekutu seperti Jepang dan Belanda untuk mengikuti jejaknya. Sebagai contoh, Belanda telah sepakat untuk membatasi ekspor peralatan litografi canggih dari ASML ke Tiongkok.

Pada bulan Juli 2023, Tiongkok mengumumkan niatnya untuk memberlakukan kontrol ekspor ini, memberikan waktu singkat bagi industri global untuk bersiap sebelum implementasi pada awal Agustus. Ini menandai eskalasi baru dalam “perang chip” yang lebih luas, mengubah fokus dari pembatasan teknologi ke bahan baku.

Perkembangan Terbaru dan Respons Global

Kementerian Perdagangan Tiongkok dan Administrasi Umum Bea Cukai secara resmi mengumumkan bahwa mulai 1 Agustus 2023, eksportir gallium dan germanium serta senyawa terkait akan diwajibkan untuk mengajukan lisensi ekspor. Aplikasi harus menyertakan informasi terperinci tentang pembeli luar negeri, pengguna akhir material tersebut, serta tujuan penggunaannya. Prosedur ini dapat memperlambat atau bahkan menghambat aliran pasokan.

Protes Keras dari Jepang

Jepang, sebagai salah satu negara dengan industri teknologi dan otomotif terkemuka di dunia, menjadi salah satu yang paling vokal dalam menentang kebijakan baru ini. Jepang sangat bergantung pada Tiongkok untuk pasokan mineral tertentu, termasuk gallium dan germanium, yang merupakan bahan baku vital bagi produsen komponen elektronik dan semikonduktor mereka.

Segera setelah pengumuman dan implementasi, Jepang mengajukan protes resmi melalui saluran diplomatik. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno, menyatakan keprihatinan serius dan mendesak Tiongkok untuk memberikan penjelasan yang jelas mengenai dasar kebijakan tersebut. Ia menekankan pentingnya transparansi dan stabilitas rantai pasok global untuk menjaga kepercayaan investasi.

Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Yasutoshi Nishimura, juga menyuarakan penolakan keras, menyatakan bahwa Jepang akan bekerja sama dengan negara-negara G7 lainnya untuk mendesak Tiongkok agar mencabut pembatasan ini. Nishimura menekankan bahwa kebijakan tersebut dapat melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai perdagangan yang adil dan terbuka, terutama jika diterapkan secara diskriminatif.

Kekhawatiran dari Amerika Serikat dan Uni Eropa

Amerika Serikat dan Uni Eropa juga telah menyatakan keprihatinan yang mendalam. Juru bicara Departemen Perdagangan AS menyatakan bahwa Washington menentang kontrol ekspor yang tidak adil dan akan berkonsultasi dengan sekutunya untuk mengatasi masalah ini. Uni Eropa, yang juga memiliki ketergantungan pada mineral ini untuk industri teknologinya, sedang mengevaluasi dampak kebijakan Tiongkok dan mempertimbangkan langkah-langkah respons yang mungkin.

Beberapa analis melihat langkah Tiongkok ini sebagai upaya untuk menunjukkan kekuatan ekonominya dan kemampuannya untuk membalas tekanan yang diterimanya dari Barat. Ini juga dapat menjadi strategi untuk meningkatkan posisi tawar Tiongkok dalam negosiasi perdagangan dan teknologi di masa depan, serta menguji kesatuan aliansi Barat.

Dampak Terhadap Industri dan Rantai Pasok Global

Pembatasan ekspor ini berpotensi menimbulkan dampak yang luas dan signifikan, tidak hanya bagi Jepang tetapi juga bagi industri global yang sangat bergantung pada material ini.

Gangguan Rantai Pasok Global dan Kenaikan Harga

Dampak paling langsung adalah potensi gangguan pada rantai pasok global. Perusahaan-perusahaan yang memproduksi semikonduktor, perangkat optik, dan komponen elektronik lainnya mungkin menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pasokan gallium dan germanium yang memadai. Hal ini dapat menyebabkan:

  • Kenaikan Harga: Kelangkaan pasokan cenderung mendorong harga material ini naik secara drastis, meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan di seluruh dunia.
  • Penundaan Produksi: Kekurangan bahan baku dapat menyebabkan penundaan atau bahkan penghentian produksi di beberapa sektor, mulai dari elektronik konsumen hingga pertahanan.
  • Ketidakpastian Pasar: Ketidakpastian mengenai akses pasokan akan menciptakan volatilitas pasar dan mempersulit perencanaan jangka panjang bagi perusahaan yang bergantung pada material ini.

Perusahaan-perusahaan Jepang seperti Sumitomo Chemical, Mitsubishi Chemical, dan Shin-Etsu Chemical, yang merupakan pemain kunci dalam rantai pasok material canggih, akan sangat terpengaruh. Demikian pula, produsen chip di Taiwan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat yang menggunakan material ini dalam proses manufaktur mereka.

Ancaman terhadap Inovasi Teknologi

Gallium dan germanium adalah fondasi bagi banyak inovasi teknologi masa depan, termasuk pengembangan teknologi 6G, komputasi kuantum, dan teknologi energi terbarukan yang lebih efisien. Pembatasan pasokan dapat menghambat penelitian dan pengembangan di bidang-bidang ini, memperlambat kemajuan teknologi secara global dan memperpanjang waktu untuk membawa inovasi ke pasar.

Negara-negara yang berusaha membangun kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada Tiongkok mungkin akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mencapai tujuan tersebut jika akses terhadap bahan mentah dasar ini terhambat, memaksa mereka untuk mencari alternatif yang belum tentu seefisien atau seefektif.

Mendorong Diversifikasi dan De-risking

Kebijakan Tiongkok ini akan semakin mendorong negara-negara dan perusahaan untuk mencari sumber pasokan alternatif dan berinvestasi dalam produksi domestik atau daur ulang. Namun, upaya diversifikasi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi besar, serta mungkin tidak sepenuhnya menggantikan dominasi Tiongkok dalam waktu dekat.

Ini juga akan mempercepat tren “de-risking” dari Tiongkok, di mana perusahaan berusaha mengurangi ketergantungan mereka pada satu negara untuk komponen atau bahan baku penting, bahkan jika itu berarti biaya yang lebih tinggi dan efisiensi yang sedikit berkurang. Perusahaan mungkin akan meninjau ulang strategi rantai pasok mereka secara fundamental.

Langkah Selanjutnya dan Prospek Masa Depan

Situasi ini diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa bulan mendatang, dengan implikasi jangka panjang bagi perdagangan global dan hubungan geopolitik.

Upaya Diplomasi dan Negosiasi

Jepang dan sekutunya kemungkinan akan terus menekan Tiongkok melalui saluran diplomatik untuk mencabut atau melonggarkan pembatasan ekspor ini. Pertemuan bilateral dan multilateral, termasuk dalam forum G7, akan menjadi platform untuk diskusi lebih lanjut. Namun, mengingat sifat kebijakan ini yang tampaknya merupakan balasan strategis, Tiongkok mungkin tidak akan mudah menyerah pada tekanan eksternal.

Ada kemungkinan negosiasi dapat terjadi untuk mencari kompromi, misalnya melalui penetapan kuota ekspor atau pengecualian untuk penggunaan tertentu, namun ini akan sangat bergantung pada dinamika hubungan politik yang lebih luas dan kesediaan kedua belah pihak untuk berkompromi.

Investasi dalam Pasokan Alternatif dan Daur Ulang

Dalam jangka menengah hingga panjang, negara-negara importir akan meningkatkan upaya untuk mengembangkan sumber pasokan alternatif. Ini termasuk investasi dalam penambangan dan pemrosesan mineral di negara lain (misalnya, Kanada dan Amerika Serikat memiliki cadangan germanium, meskipun produksinya lebih kecil dari Tiongkok) serta pengembangan fasilitas daur ulang untuk mendapatkan kembali material berharga dari limbah elektronik.

China Keluarkan Larangan Ekspor, Jepang Protes Keras - detikFinance

Penelitian dan pengembangan untuk mencari material pengganti yang memiliki sifat serupa juga akan diintensifkan, meskipun ini seringkali merupakan proses yang panjang, mahal, dan tidak selalu menghasilkan solusi yang setara dalam jangka pendek.

Pengawasan Implementasi Lisensi

Dunia akan mengamati dengan cermat bagaimana Tiongkok mengimplementasikan sistem lisensi ekspor ini. Apakah lisensi akan diberikan secara rutin dan transparan, atau apakah prosesnya akan diperlambat dan persetujuan akan jarang diberikan, terutama untuk negara-negara tertentu? Tingkat kesulitan dalam mendapatkan lisensi akan menjadi indikator kunci seberapa parah Tiongkok berniat untuk membatasi ekspor dan apakah ini adalah tindakan simbolis atau pembatasan substansial.

Langkah Tiongkok ini bukan hanya tentang gallium dan germanium, tetapi juga tentang sinyal yang lebih luas mengenai kontrol Tiongkok atas rantai pasok global dan kesediaannya untuk menggunakan kekuatan ekonominya sebagai alat geopolitik. Ini akan membentuk kembali strategi perdagangan dan keamanan nasional di banyak negara untuk tahun-tahun mendatang, mendorong pergeseran paradigma dalam globalisasi.

Share This Article